Pages

Friday, November 28, 2014

berfikir positif dan optimis


Sebuah studi dari Karolinska Institutet di Swedia mengungkapkan bahwa apa yang kita bayangkan dalam pikirkan ternyata dapat mempengaruhi cara kita mengalami dunia. Persepsi kita yang sesungguhnya mengalami perubahan di saat kita mengimajinasikan sedang ‘mendengar’ atau ‘melihat’ sesuatu dalam benak kita. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini menyoroti pertanyaan klasik dalam dunia psikologi dan neurologi tentang bagaimana otak kita mengkombinasikan informasi dari berbagai indera yang berbeda-beda.

Islam dan syiah bagai air dengan minyak


HARI-HARI masalah Syiah kembali mengemuka di Indonesia. Secara bahasa Syiah diartikan sebagai ‘kelompok, golongan’ dan pendukung’. Secara istilah, Syiah adalah sebuah sempalan dalam agama Islam yang memiliki rukun Islam dan rukun iman tersendiri. Dianggap sempalan karena Rukun Islam dan Rukun Imannya berbeda.
Di sisi lain, kelompok ini ini dianggap menyimpang setidaknya sikap berlebih-lebihan mereka terhadap sahabat Nabi sementara di sisi lain justru mencela sahabat yang dicintai Nabi bahkan dijamin masuk surga.
Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi sesudahnya, dan sesudahnya lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wednesday, November 19, 2014

renungan



Catatan seorang penulis ini bisa menjadi pelajaran yang berharga:

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri."

awas strategi siah merangkul alat negara

BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya 14 November 2014, ormas Syiah ABI (Ahlul Bait Indonesia) mengadakan Muktamar II, bertempat di Auditorium Prof. Dr. Rasjidi lingkungan Kementrian Agama (Kemenag). Yang patut disayangkan, acara tersebut diadakan di kantor lingkungan Kemenag.
Padahal, Kemenag adalah lembaga pemerintah dan salah satu alat negara yang berkewajiban menjaga hal-hal yang membahayakan NKRI. Selain itu, sebagai alat negara yang mengurus keagamaan, maka wajib hukumnya Kemenag melindungi stabilitas umat mayoritas dari gangguan paham-paham asing yang tidak sesuai nilai-nilai NKRI dan Pancasila.
Pada 21 September 1997, pernah diadakan Seminar Nasional tentang Syiah di Masjid Istiqlal Jakarta. Seminar yang diadakan MUI dan LPPI mengungkap hakikat Syiah itu disambut baik oleh Departemen Agama (sekarang bernama Kemenag). Drs. H. Subagjo, direktur Direktorat Penerangan Agama Islam Departemen Agama hadir dalam seminar tersebut mengaku bahwa Depag cenderung memilih agar Syiah dilarang di Indonesia. Sebagaimana Malaysia dan Brunei Darussalam yang lebih dulu melarang aliran yang dikenal mengajarkan mencela Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam itu.
Sementara, Menteri Agama, yang ketika itu dijabat oleh dr. Tarmizi Taher, juga sepakat bahwa ulama perlu membentengi generasi muda yang agamanya masih kurang dan mudah dirayu hawa nafsu. Menurutnya, berbeda pendapat itu tidak mengganggu ukhuwah (wawancara Majalah Panji Masyarakat 6 Oktober 1997).
Ketika hawa revolusi Syiah di Iran masih hangat, Depag dengan cepat merespon, untuk membendung pengaruhnya sampai ke Indonesia. Pada 5 Desember 1983 Depag mengeluarkan surat edaran bertajuk “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syih’ah”. surat edaran bernomor D/BA.01/4865/1983 itu ditulis, “Syiah Imamiah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam sesungguhnya”. Surat edaran tersebut juga menjelaskan sekte-sekte Syiah, termasuk ditulis di salah satu poinnya Syiah ekstrim. Dijelaskan dalam poin enam, bahwa sekte ekstrim ini telah keluar dan menyimpang dari akidah Islam. Kelompok ini disebut al-Ghulat.
Surat edaran Depag tersebut tentunya didasarkan oleh pengamatan dalam konteks keindonesiaan. Berdasarkan itu, dapat diambil kesimpulan, bahwa memang terdapat ekstrimisme Syiah di Indonesia yang mengancam NKRI dengan cita-cita revolusinya sebagaimana di Iran.
Inilah sikap Depag dahulu sebagai peringatan kewaspadaan. Potensi-potensi yang mengancam NKRI segera dipelajari mendalam untuk diambil sikapnya. Pejabat Depag menerima fatwa MUI tentang peringatan kewaspadaan terhadap Syiah. Depag dan MUI juga kompak dengan ormas besar Islam.
Pada tahun itu, gerak ormas-ormas seirama dengan MUI dan Depag. Suasana ukhuwah menjaga NKRI dari pahama yang mengancam sangat dirasakan. Kita lihat misalnya, PBNU pada tahun 1997 menerbitkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap aliran Syiah. Surat edaran bernomor 724/A.II.03/10/1997 menyeru kepada umat nadhliyyin untuk memahami secara jelas perbedaan prinsip antara Ahlus Sunnah dengan aliran Syiah. Atas upaya penolakan-penolakan tersebut, Syiah tiarap. Namun, ‘tidur-nya’ Syiah, bukanlah matinya. Umat Syiah ‘tidur’ untuk melakukan strategi baru.
Kemenag yang memberi izin Munas II ABI yang diadakan di Auditorium Prof. Dr. Rasjidi merupakan kebijakan yang menyakiti Prof. Dr. Rasjidi. Dan tidak patut dilakukan Kemenag. Dalam karyanya berjudul Apa itu Syi’ah, Prof. Rasjidi mengatakan: “Bahwa hak menjadi khalifah atau penguasa terbatas kepada anak cucu Nabi sampai 12 orang, bahwa semuanya itu ma’shum, bahwa mereka mengetahui yang ghaib, semuanya itu adalah akidah yang tidak benar. Bahwa nabi Muhammad Saw telah berwasiat agar nanti jabatannya sebagai kepala negara hendaknya diteruskan oleh Ali adalah asumsi sepihak. Jika asumsi itu benar, niscaya para Sahabat mengetahuinya” (H.M. Rasjidi,Apa itu Syi’ah, hal. 46).
Secara khusus tentang Syiah Imamiyah – yaitu sekte Syiah yang dianut oleh kaum Syiah di Indonesia – Prof. Rasjidi tidak ragu menyatakan bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau mengatakan: “Semua itu (Syiah Imamiyah, pen) tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syiah Imamiyah pikiran tidak dapat berkembang ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan imam ada gab atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan tahayyul yang menyimpang dari ajaran Islam” (Apa itu Syiah, hal. 55). Menurut Prof. Rasjidi, umat Islam Indonesia adalah dari golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang memiliki pandangan berbeda dengan aliran Syiah.
Siapa Prof. Rasjidi? Beliau salah satu orang penting dalam sejarah Indonesia dan kementrian agama. Prof. Rasjidi adalah Menteri Agama pertama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University Canada. Sumbangsih jasa-jasa Prof. Rasjidi buat negara ini tidak ternilai harganya.
Ia juga seorang yang memiliki prestasi akademik membanggakan negeri. Beliaulah Sarjana Cairo pertama dari Mahasiswa Indonesia dengan Nilai Mumtaz (cumlaude) ini dalam hidupnya sangat sederhana, jujur dan amanah.
Kemenang harusnya lebih paham tentang kewaspadaan ini. Jika pada tahun 80-an banyak dijumpai aksi-aksi radikalisme Syiah terutama dilakukan oleh pemudanya. Maka, kini Syiah memakai pendekatan lobi-lobi politik secara halus. Pada tahun 1980 Ayatullah Khomeini pernah berpidato dengan menekankan agar pemimpin negara-negara Muslim mengadakan revolusi seperti yang ia lakukan menggulingkan Syah Reza.
Syiah Indonesia sudah pasti berkiblat ke Iran. Ribuan pelajar sedang belajar di pusat-pusat studi di Iran. Nasionalisme kaum Syiah juga diperkirakan hanyalah nasionalisme pura-pura. Mereka lebih taat marja’ Syiah Iran dari pada Pancasila. Ingatlah kejadian-kajian kerusuhan sosial di Madura dan Jember beberapa waktu lalu. Pemicunya adalah kaum Syiah. Kemenag harus menjadi alat negara yang melindungi umatnya dari ancaman konspirasi halus paham asing yang akan mengancam eksistensi NKRI.

sumber ~hidayatulloh.com

Islam sejatinya adalah agama yang universal


Islam sejatinya adalah agama yang universal, menyentuh semua lini kehidupan. Mengajarkan tentang akhlak juga peribadatan, mengajarkan cara lemah lembut dalam berdakwah juga cara berjihad (langkah perang yang diambil jika jalan damai sudah tidak memungkinkan lagi).
Demikian disampaikan oleh Ketua Persatuan Ulama Islam Sedunia, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam situs resminya al qaradawi.net pada Selasa (18/11/2014).
“Pemahaman Islam yang menyeluruh adalah sempurna. Sebagaimana Allah wahyukan kepada Rosul-Nya,” terang Yusuf Qaradhawi.
Mengajarkan tentang agama juga bernegara,” tambahnya mencontohkan.
“Maka (Islam-Rep) menolak seluruh bentuk pemetak-metakan terhadap Islam dan ajarannya, seperti mereka yang menginginkan akhlak tanpa peribadatan, atau akidah tanpa syariat, atau pernikahan tanpa perceriaan, atau damai tanpa jihad, atau memberikan hak tanpa tuntutan, atau agama tanpa negara, pemahaman seperti inilah yang sejatinya ditentang oleh Islam!” tambahnya menyisir ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 49).*

~sumber = Hidayatullah.com

Monday, May 20, 2013

3 golongan yang hina di akhirat nanti






Imam An-Nawawi dalam Riyadhus-Shalihin (hal. 616). menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi saw  berpesan kepada para sahabatnya: “Tsalaatsatun laa yukallimuhumullahu yaumal qiyamah wa laa yuzakkihim wa laa yandzuru ilaihim wa lahum ‘azabun aliim”. (Ada tiga golongan manusia pada Hari Kiamat tidak disapa, tidak disucikan, tidak ditatap dan akan ditimpakan azam pedih). (HR. Muslim).
 
Pertama ; Syaikhun zaanin (orang tua yang berzina).

Allah benci kepada siapa pun yang berzina, tapi lebih benci kepada orang tua bangka yang berzina.

Kenapa? Karena seorang yang sudah lanjut usia mestinya menjadi sumber kearifan, melindungi dan panutan masyarakatnya. Menjaga keharmonisan sosial dan keluarga serta semakin taqarrub ilallah.

Saturday, May 18, 2013

Kewajiban Mencari Rejeki Yang Halal





(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)
Di majalah As Syari’ah
(Surakarta)


Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta Alam, Dzat Yang Maha Tinggi dengan sifat-sifat-Nya yang mulia dan nama-nama-Nya yang berada pada puncak keindahan. Semoga shalawat dan salam-Nya selalu Ia curahkan keharibaan Rasul-Nya Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.

Thursday, May 16, 2013

mencintai karena Allah



إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له من يضلل فلا هاديله، وأشهد أن لا إلـه إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

Tuesday, May 14, 2013

Bekerja adalah Ibadah




Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan hutang dan penindasan orang lain
Dalam pandangan Islam, bekerja merupakan suatu tugas yang mulia, yang akan membawa diri seseorang pada posisi terhormat, bernilai, baik di mata Allah SWT maupun di mata kaumnya. Oleh sebab itulah, Islam menegaskan bahwa bekerja merupakan sehuah kewajiban yang setingkat dengan Ibadah. Orang yang bekerja akan mendapat pahala sebagaimana orang beribadah. Lantaran manusia yang mau bekerja dan berusaha keras untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya, akan dengan sendirinya hidup tentram dan damai dalam masyarakat . Sedangkan dalam pandangan Allah SWT, seorang pekerja keras (di jalan yang diridhai Allah tentu lebih utama ketimbang orang yang hanya melakukan ibadah (berdo’a saja misalnya), tanpa mau bekerja dan berusaha, sehingga hidupnya melarat penuh kemiskinan.
Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah SAW amat prihatin terhadap para pemalas. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Dawud dikisahkan, bahwa pada suatu hari beliau menjumpai seorang sahabat sedang duduk bersimpuh di dalam masjid, ketika semua orang sedang giat bekerja. Maka Beliaupun bertanya: ”Mengapa engkau berada dalam masjid di luar waktu shalat, wahai Abu Umamah?” Abu Umamah menjawab: ”Saya bersedih lantaran banyak hutang, wahai Rasulullah”. Lantas beliau bersabda: ”Mari Aku tunjukkan kepadamu beberapa kalimat, dan jika engkau membacanya, Allah akan menghapus kesedihanmu dan menjadikan hutangmu terbayar. Bacalah pada waktu pagi dan sore.”
Do’a tersebut, yang artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan hutang dan penindasan orang lain”. (HR. Bukhari)

Sunday, May 12, 2013

Jika Nafas Masih Ada, Tanda Masih Terbuka Kesempatan Bertaubat




وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
[QS: Al-Furqan, 25: 71]
SESUNGGUHNYA tidak ada yang setengah-setengah dalam agama, semua yang haq dan bathil telah dijelaskan secara rinci dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Karena itu, jika manusia ingin melaksanakan syari’at agama hendaknya bersikap total, sepenuhnya diamalkan.
Masalahnya, ajakan dan perintah yang cukup jelas itu kadang menjadikan makhluk yang bernama manusia tidak sempat untuk menangkap hikmah dan manfaat kini. Orang menjadi serius dengan kesibukan tertentu, dan lalai dalam melaksanakan ajakan dan perintah itu.
Di sisi lain, agama ini memberikan ‘rambu-rambu’ kehidupan yang jelas, dan larangan adalah garis yang tidak dapat diterjang oleh siapapun. Tanpa terkecuali. Betapa Islam tidak memberikan perlakuan yang bersifat ‘pilih kasih’ dalam soal tatanan dan aturan hidup.
Sering kali ungkapan yang diajukan adalah karena saya manusia, tempat lupa dan salah. Ada lagi yang menganggap mumpung masih muda, dipuas-puaskan. Yang lain lagi mengatakan bahwa saya ini sudah terlanjur banyak berbuat maksiat. Mungkin masih banyak yang ingin menunjukkan mengapa tidak segera keluar untuk menemukan jalan baru, taubat. Semakin dicari alasan semakin tidak akan pernah terjadi pertaubatan. Dan menuruti hawa nafsu tidak akan pernah ada ujungnya.

Friday, May 10, 2013

MIMPI YANG HARUS DIBELI


CITA-CITA MENJADI TAMU ALLAH DI MASJIDIL HARAM {umur 35}.. AMIIIIINNN

Sunday, May 5, 2013

bayarlah upah pekerjamu sebelum keringatnya kering





Bagi setiap majikan hendaklah ia tidak mengakhirkan gaji bawahannya dari waktu yang telah dijanjikan, saat pekerjaan itu sempurna atau di akhir pekerjaan sesuai kesepakatan. Jika disepakati, gaji diberikan setiap bulannya, maka wajib diberikan di akhir bulan. Jika diakhirkan tanpa ada udzur, maka termasuk bertindak zholim.
Allah Ta’ala berfirman mengenai anak yang disusukan oleh istri yang telah diceraikan,
فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS. Ath Tholaq: 6). Dalam ayat ini dikatakan bahwa pemberian upah itu segera setelah selesainya pekerjaan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Monday, April 15, 2013

QISHAS dan KASUS LAPAS CEBONGAN





Oleh: Herman Anas
PENYERANGAN Lapas Cebongan yang menewaskan empat tahanannya yakni ; Dicky Sahetapi alias Dicky Ambon, Dedi, Ali, dan YD alias Johan sudah terungkap. Keterlibatan oknum anggota Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD terbukti sebagai pelaku penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan Sleman Yogyakarta, mengundang kecaman dan keprihatinan.
Penyelidikan dari Tim Investigasi TNI AD mendapatkan motif penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah reaksi atas pembunuhan anggota Kopassus Serka Heru Santoso dan penyerangan mantan anggota Kopassus Serka Sriyono. Kedekatan pelaku dengan para korban juga menjadi latar belakang. (Kamis, 4 April 2013 Jakarta, Kompas.com)
Ada banyak sekali komentar diberbagai media massa tentang kasus Penyerangan Kopassus di Lapas Cebongan. Mulai dari mengecam karena main hakim sendiri sampai dengan yang memuji Kopassus, karena bisa membunuh 4 orang yang dikaitkan premanisme.
Namun yang jelas, semua pihak sepakat,  hukum jalanan (street justice) tidak akan pernah menyelesaikan masalah, tetapi justru akan memperuncing dan menambah masalah yang lain. Penegakan hukum harus dipastikan terbuka atas kasus ini. Semata-mata, untuk mencegah semakin meningkatnya ketidakpercayaan publik pada hukum dan para aparat negara.

Meski demikian,ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari kasus tersebut. Tentu sebagai umat Islam, kita harus memandangnya sebuah kasus dari sudut pandang Islam. Bukan berdasarkan sudut pandang yang lain. Dan yang terpenting, hikmah tersebut hanya bisa diambil oleh orang yang menggunakan akalnya.
Banyak sekali perintah di dalam al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan akal bukan perasaan di dalam menyelesaikan persoalan. Allah pada saat memberikan petunjuk (al-qur’an) kepada manusia tentu untuk kemaslahatan. Sehingga orang yang mengingkari petunjuk tersebut akan tersesat dan mengalami kerusakan dalam hidupnya baik di dunia terlebih di akhirat.
Sebagaimana perkataan Sayyidina umar  (Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan agama Islam, maka apabila kita mencari kemulian di luar Islam, justru Allah menghinakannya)
Perkataan Sayyidina umar ini bisa dibuktikan pada saat ini oleh umat Islam. Umat benar-benar dihinakan oleh Allah dengan hukum jalanan karena tidak diterapkannya sanksi qishas dalam kasus pembunuhan yang disengaja. 

1. Kerusakan yang pertama adanya Hukum Jalanan (Street Justice)
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum saat ini mengakibatkan mereka mengambil langkah hukum sendiri. Hal ini terbukti banyak kasus tidak hanya penyerangan Kopassus di Lapas Cebongan yang sedang ramai dibicarakan saat ini.
Banyak sekali kasus pembunuhan, mutilasi dan perampokan yang berada disekeliling kita. Bahkan jambret dan pencuri  malah menjadi profesi akibat tiadanya hukum yang tegas, memberikan efek jera dan adil.
Dalam Islam orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan pembunuhan karena dia tau konsekuensinya adalah dibunuh (efek jera).
Abu ‘aliyah mengatakan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa ;“Allah menjadikan Qishas sebagai jaminan keberlangsungan hidup : Betapa banyak orang yang ingin membunuh, tapi kemudian mengurungkannya karena takut dirinya dibunuh (qishas)”. Tidak pandang bulu siapapun yang melakukan baik rakyat jelata ataupun konglomerat. Sebagaimana potongan Sabda Nabi, “Andaikan Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”
Kondisi ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Kepuasan terhadap penegakan hukum di Indonesia berada pada titik terendah. Hanya 29,8 persen yang menyatakan puas terhadap penegakkan hukum di tanah air. Sementara sisanya 56,0 persen menyatakan tidak puas. 
2. Kerusakan yang kedua adanya Balas Dendam pada saat masalah tidak diputusi secara adil.
Kebanyakan orang sering mengatakan kejam terhadap sanksi Islam sebagaimana qishas. Karena mereka memakai sudut pandang HAM-Barat yang melihat dari sisi pelaku, bukan sudut pandang Islam yang memandang dari sisi korban. Padahal Allah berfirman dalam al-Qur’an

Wednesday, April 10, 2013

Bertaqwalah di faceebook,twitter,jejaring Sosial Internet yg laen






Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dihasankan pula oleh asy-Syaikh al-Albani)

karena dunia sudah semakin melebar, memasuki sisi terdalam dari kita, sisi Imajinasi kita, 

Rasulluloh memberi nasehat seperti hadist di atas, Memang Al-qur'an dan Hadist Rasulluloh Muhammad SAW berlaku sesuai kehidupan sepanjang zaman, kapanpun waktu manusia hidup, dan dimanapun manusia berada. Akal menjadi alat berfikir, dan panduan Agama (al-Qur'an dan Hadist) sebagai aturan kehidupan agar selamat menjalani kehidupan ini.

membicarakan hadist tersebut, tentunya harus dengan keimanan, disertainya kepercayaan bahwa apa yang disampaikan Rasullulah adalah kebenaran, "bertaqwa kepada Allah dimana saja kamu berada" menyatakan bahwa ia mengingatkan kita jika dalam dunia maya-pun (internet, HP, BB, dll) kita juga harus bertaqwa, ketika pergaulan ini sudah menjelajah, mendunia, dan bebas, lintas batas, tentunya kepribadian/akhlaq kitapun seharusnya tetap dijaga. amin

~kemudahan itu harusnya menjadi Anugerah~
~kebebasan itu harusnya menjadi Hikmah~

{arip, +Cawang Mandiri 


bangun dan...




“Barangsiapa yang bangun dipagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya (berdzikir) maka Allah subhanahu wata’ala akan menanamkan empat penyakit. Kebingungan yang tiada putus-putusya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, khayalan yang tidak berujung.” (HR. Muslim)

3 ukuran untuk memilih calon pasangan



{cawang, Jakarta Timur, 10-4-2013}
Ketika akan mencari pasangan Hidup, kita sebagai laki-laki mempunyai harapan tuk mendapatkan istri yang sholihah, adapun untuk mendapatkan pasangan yang Sholihah tentunya haruslah Instropeksi diri, Memperbaiki diri Keshalihan diri, Ikhtiar itulah yang Mulia.
Terkadang Media sekarang memudahkan kita tuk berinteraksi, Internet (facebook, Twitter,dll) HP, BB,dll membuat kemudahan tuk berkomunikasi, tentunya itu hanya dunia Maya, yang mana interaksi yang terjadi bukanlah realtime dan tidak nyata. Akhlaq adalah cerminan pribadi seseorang, dalam berinteraksi Akhlaq merupakan cerminan kepribadian seseorang.
Pengalaman penulis pribadi sesungguhnya berkeinginan menemukan jodoh ditempat-tempat yang Mulia, entah itu di Masjid, di pengajian, di kegiatan keagamaan dan sejenisnya. Tapi semua aktifitas kerja dan domisili yang tidak memungkinkan. akhirnya hanya do’a dan ikhtiar sebisanya yang dilakukan. Tentunya dengan dilandasi dengan Niatan Awal yang TEguh dan Benar bahwa Menikah adalah syari’at yang dituntunkan oleh yang Mulia Sauritauladan kita NAbiyulloh Rasulluloh Muhammad SAW.

Rasullulloh mengajarkan bagaimana memilih pasangan/istri.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salehah” (HR. Muslim).
Seorang pria yang bijak nan pandai tentu mengidamkan seorang calon isteri, seorang wanita yang dia yakini dapat membahagiakannya. Dia tidak akan menjerumuskan diri ke dalam perangkap seorang wanita yang dapat membuat lelah hidupnya, kering kerontang dari kasih sayang, serta dipenuhi persoalan dan masalah yang membuatnya tidak merasa bahagia. Sebaliknya, dia berusaha untuk mendapatkan wanita yang sejuk dipandangnya, lembut dibelainya, menaunginya dengan kasih dan cinta, meredam amarah dan gejolak yang terbawa dari luar rumah, serta mampu mendidik anak-anak buah hatinya menjadi anak yang taat dan menyenangkan. Itulah wanita salihah, idaman dan dambaan setiap laki-laki.
Islam, berdasarkan tuntunan dari Rasulullah saw., telah merangkai kriteria-kriteria dari wanita yang layak menjadi pendamping hidup. Diriwayatkan  Abdullah bin Amr, Nabi saw., bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
"Rasulullah: "Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak wanita berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama." (HR. Muslim)
Wanita yang cantik, rupawan, nan elok, tidak disangkal menjadi impian dari kebanyakan pria. Sehingga, ketika wanita seperti itu melintas di hadapannya, dapat dipastikan mata sang pria akan mengikuti pemandangan tersebut sampai hilang di ujung jalan. Namun cukupkah kecantikan wanita tersebut bagi dirinya untuk menjadi bahagia?
Hadis di atas mewanti-wanti pria yang tergoda oleh kecantikan wanita seperti ini.  Kecantikan bagi seorang wanita bisa menjadi anugerah yang besar, ketika wanita tersebut mensyukurinya. Namun bagi wanita yang tidak bersyukur, dia tidak menyadari bahwa kecantikan itu dapat melalaikannya dari agama. Mengapa? Sebab, kecantikan akan mendatangkan pujian. Pujian itu sendiri dapat menjadi candu yang memabukkan. Ketika seseorang dimabuk pujian, maka logika akal sehat bisa terdegradasi (berkurang). Jika sudah demikian adanya, maka bukan rahmah yang diperoleh oleh suaminya kelak ketika telah menikah, melainkan fitnah. Selain itu, kecantikan seseorang bersifat sementara. Kecantikan akan berkurang dengan bertambahnya usia. Maka seorang pria yang menikahi wanita karena faktor kecantikan bisa jadi akan berpaling ke wanita lain yang lebih cantik setelah kecantikan itu berkurang dari wanita pertamanya. Jika ini terjadi, maka dimulailah episode pertengkaran dan cekcok dalam rumah tangga.
Bagaimana dengan Isteri yang Kaya?
Mendapatkan wanita yang kaya bukan hal yang tercela. Nabi saw., sendiri menikahi Khadijah, seorang saudagar yang kaya raya. Perkawinan mereka langgeng dan harmonis, bahu membahu dalam bekerja dan berdakwah. Akan tetapi, memilih untuk menikah dengan kekayaan sebagai alasan utamanya bukan pilihan tanpa resiko. Harta kekayaan yang melimpah jika tidak disyukuri dan tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, justru menjadi ‘bumerang’ bagi pemiliknya. Allah berfirman:
Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim: 14).
Ayat ini berlaku umum untuk pria dan wanita. Plus minus dari kekayaan adalah ia dapat menjadi alat dan sarana untuk mendatangkan kebaikan yang lebih banyak sekaligus dapat menjadi penyebab dari kedurhakaan. Sebab banyaknya nikmat  yang diperoleh seseorang dari Allah swt., berimplikasi seimbang dengan tingkat rasa syukurnya kepada Allah. Karena itu, Nabi saw., mengajarkan doa :
Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzhalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami”. (HR. Turmuzi)
Pilihlah Muslimah Sejati
Sebagaimana halnya muslim sejati, muslimah sejati adalah wanita yang menjalankan perannya dalam kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Kekayaan dan kecantikan sama sekali tidak terkait dengan kesejatian seorang muslimah. Yang terpenting adalah bahwa wanita memiliki peran yang sama pentingnya dengan pria dalam mengarungi samudera kehidupan ini, dalam membina anak, menegakkan syiar Islam, atau mengamalkan Islam secara keseluruhan.
Wanita salihah sesungguhnya adalah seorang muslimah sejati. Dia mematuhi dan mentaati suaminya sepenuh kepatuhan dan ketaatan dalam rel dan koridor agama. Dia mencintai suami dan anak-anaknya sebagai bagian dari cintanya kepada Allah.  Maka ketika suaminya khilaf dan menyimpang dari ajaran agama, dialah yang pertama menegurnya dengan cara yang halus, yang tidak menyinggung perasaan suaminya. Ketika suaminya giat dalam bekerja dan berdakwah, sang isteri berperan sebagai “amunisi dan bahan bakar” yang memotivasi dan mensupport secara maksimal.
Wanita yang salihah, tidak membiarkan hatinya ditumbuhi benih pengkhianatan dan penyelewengan. Dia menutup hati dan qalbunya  rapat-rapat tanpa celah dari kekaguman dan pesona pria selain suaminya. Bahkan kalau boleh dia meminta kepada Allah kiranya ruhnya dicabut dalam kesetiaan dan cintanya, mendahului suaminya. Karena dia tidak ingin kalau suaminya yang meninggal terlebih dahulu, akan datang berbagai godaan yang merusak cinta dan setianya kepada suami.
Ciri Utama Isteri Salihah
Lalu, apa ciri-ciri utama dari seorang isteri yang salihah? Nabi saw., memberikan keterangan sebagai berikut:
“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita shalehah yang menyenangkan jika dipandang, yang taat padanya jika disuruh, yang bisa menjaganya jika ditinggal pergi.” (HR. Abu Daud dan al-Hakim dari Umar ra.)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ
Dari [Abu Hurairah]; Rasulullah: "Wanita yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab: "Jika ia dipandang selalu menyenangkan, jika diperintah taat, dan tidak menyelisihinya terhadap perkara yang ia benci bila terjadi pada dirinya (istri) atau hartanya (suami)."
Dari hadis di atas, disebutkan minimal 3 (tiga) ciri wanita (isteri) salihah, yaitu:
1.    Menyenangkan jika dipandang. Tidak harus cantik nan rupawan bagi seorang wanita untuk menyenangkan orang yang memandangnya. Kalau jiwanya dipenuhi keikhlasan, rasa percaya dan yakin bahwa Allah menjaganya selama dia taat, hatinya penuh dengan praduga baik (husnuzhzhann), maka batinnya memancarkan sinyal-sinyal kasih sayang yang menyentuh hati orang yang memandangnya, tanpa menimbulkan niat buruk. Itulah qurratu ‘ain, istilah al-Qur’an bagi isteri dan anak-anak saleh yang menjadi penyejuk mata bagi suami atau ayahnya. Sekali lagi, bukan kecantikan fisik yang menyenangkan untuk dipandang, tetap keindahan batin.
2.    Taat jika disuruh. Seorang pria yang bijak, tidak memperlakukan isterinya bagaikan pembantu atau pelayannya. Maka adalah sikap dan anggapan keliru dari “perkumpulan suami-suami” yang atas nama agama, menginginkan ketaatan dari seorang isteri, layaknya ketaatan atasan terhadap bawahan, atau majikan terhadap buruhnya. Ketaatan yang dimaksudkan dan diinginkan di sini adalah ketaatan yang proporsional bagi seorang isteri dan ibu rumah tangga yang terhormat. Seorang suami yang meminta dibuatkan the buatan tangan isterinya wajar dan wajib ditaati. Namun jika suami menyuruh isteri untuk  mengepel dan membersihkan rumah padahal dia mempunyai atau mampu membayar pembantu, maka ketaatan yang diminta suami di sini adalah ketaatan yang berlebihan.
3.    Menjaga amanah rumah tangganya saat ditinggal pergi. Amanah yang harus dijaga wanita terhadap suaminnya tidak lain adalah kehormatan dirinya sendiri, harta suaminya, serta anak-anaknya. Terkadang hal ini menjadi sesuatu yang berat bagi seorang wanita. Adakalanya, karena suatu tugas, seorang suami harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk beberapa lama. Di sinilah godaan yang berat bagi seorang wanita. Jika ia mampu menjaga amanah tersebut, maka inilah profil wanita ahli surga.
Maka engkau wahai wanita muslimah, jadilah isteri yang salihah bagi suamimu. Jadilah ibu yang penyayang bagi anak-anakmu, dan jadilah anak yang berbakti bagi kedua orang tuamu. Maka engkau akan hidup terhormat di dunia, dan menjadi idola di akhirat kelak.
Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan anda sekalian. Amin